Geometrik (Jalan) Khusus Jurusan Teknik Sipil

Posted by Sarjana Ekonomi on Selasa, 25 September 2018




BAB I
PENDAHULUAN

Tugas Perencanaan Jalan Raya dititik beratkan pada perencanaan bentuk fisik sehingga dapat memenuhi fungsi dasar dari jalan raya itu sendiri yaitu memberikan pelayanan yang optimum pada arus lalu lintas dan sebagai akses termasuk perencanaan tebal perkerasan merupakan bagian dari perkerasan jalan seutuhnya, demikian juga dengan drainase jalan.
Jadi tujuan perencanaan jalan raya adalah menghasilkan insfrasruktur yang aman, efesiensi pelayanan lalu lintas dan memaksimalkan rasio tingkat pelayanan /biaya pelaksanan. Ruang bentuk dan ukuran dikatakan baik, jika dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi pemakai jalan. Yang menjadi dasar perencanan jalan adalah sifat gerak, ukuran kendaraan dan karakteristik arus lalu lintas. Hal-hal tersebut haruslah menjadi bahan pertimbangan perencanaan sehingga dihasilkan bentuk dan ukuran jalan serta ruang gerak kendaraan yang memenuhi tingkat kenyamanan dan keamanan diharapkan.


1.1.  Pengenalan Jalan Raya
            Jalan raya adalah suatu lintasan yang bertujuan untuk melewatkan lalu lintas dari suatu tempat ke tempat lain. Arti lintasan adalah menyangkut jalur tanah yang diperkeras atau jalur tanah tanpa perkerasan. Sedangkan arti lalu lintas adalah menyangkut semua benda dan makhluk yang melewati jalan tersebut, baik kendaraan bermotor, tak bermotor seperti sepeda, manusia ataupun hewan.
Jalan raya sebagai sarana pembangunan dan membantu perkembangan wilayah adalah sangat penting sekali. Karena itu lalu lintas di jalan raya dilakukan secara lancar dan aman sehingga pengangkutan berjalan lancar, cepat, tepat, aman, efisien dan ekonomis. Untuk itu jalan raya harus memenuhi syarat-syarat teknis dan ekonomis menurut fungsi, volume dan sifat-sifat lalu lintas.


1.2.  Klasifikasi Jalan Raya
            Dari sejarah, jalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.  Sesuai pelayanan yang didasarkan atas :
H  Prasarana sosial dan ekonomis (jalan ekonomis)
H  Prasarana politik dan militer (jalan strategi)
b.  Sesuai dengan pengawasan seperti :
H  Jalan desa, yang meliputi semua jalan di desa.
H  Jalan kabupaten atau kotamadya, yang meliputi semua jalan di kabupaten dan kotamadya.
H  Jalan propinsi, selain melayani lalu lintas dalam propinsi, juga berfungsi menghubungkan dengan propinsi lainnya.
H  Jalan negara, berfungsi menghubungkan ibukota-ibukota propinsi.
            Semua jalan tersebut dibiayai oleh pemerintah setempat (DATI I/DATI II) kecuali jalan negara yang dibiayai oleh Departemen Pekerjaan Umum (Direktorat Jenderal Bina Marga).

Klasifikasi jalan berdasarkan Undang-Undang :
H   Berdasarkan Undang-Undang Lalu Lintas Lama
            Klasifikasi jalan didasarkan pada tekanan gandar belakang yang menyatakan berat total kendaraan yakni berat kendaraan termasuk muatannya.

Klasifikasi Jalan
Berat Tekanan Gandar
I
II
III
III A
IV
V
7 ton
5 ton
    3,5  ton
     2,75 ton
2 ton
2 ton

H   Berdasarkan Undang-Undang Lalu Lintas Baru
Sesuai dengan Pengaturan Geometrik Jalan Raya No. 13/1970 dari Direktorat Eksplorasi, Survey dan Perencanaan Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, maka jalan dibagi dalam kelas-kelas yang berdasarkan :
a.  Fungsi jalan, mencakup tiga golongan penting, yakni :
Ž Jalan utama, yaitu jalan raya yang melayani lalu lintas berfrekwensi tinggi antara kota-kota penting sehingga harus direncanakan untuk dapat melayani lalu lintas yang cepat dan berat.
Ž  Jalan sekunder, yaitu jalan raya yang melayani lalu lintas berfrekwensi cukup tinggi antara kota-kota penting dan kota-kota kecil serta sekitarnya.
Ž  Jalan penghubung, yakni jalan untuk keperluan aktifitas daerah yang juga dipakai sebagai penghubung antara jalan-jalan dari golongan yang sama atau berlainan.
b.  Volume dan sifat-sifat lalu lintas
Dalam proses pembuatan jalan baru atau peningkatan jalan lama, dibutuhkan suatu perencanaan yang matang, yang disusun berdasarkan perhitungan lalu lintas untuk lokasi jalan tersebut. Hasil perkiraan ini akan diproyeksikan untuk tahun rencana yang nantinya dinyatakan sebagai volume lalu lintas rencana.
Volume Lalu Lintas Rencana (VLLR) dari lalu lintas menyatakan jumlah lalu lintas perhari dalam satu tahun untuk kedua jurusan. Untuk ini diperlukan penyelidikan lapangan 24 jam selama satu tahun dengan mencatat setiap jenis kendaraan bermotor dan kendaraan fisik yang melewati jalan tersebut. Jumlah lalu lintas perhari dalam satu tahun dinyatakan sebagai lalu lintas rata-rata (LHR).

LHR  =  Jumlah lalu lintas dalam satu tahun
                  Jumlah hari dalam satu tahun

Karena pada umumnya lalu lintas pada jalan raya terdiri dari campuran kendaraan cepat, lambat, berat, ringan dan kendaraan tak bermotor atau kendaraan fisik, maka dalam hubungannya dengan kapasitas jalan (jumlah kendaraan maksimum yang melewati satu titik/tempat dalam satu satuan waktu) mengakibatkan adanya pengaruh dari setiap jenis kendaraan tersebut. Pengaruh ini diperhitungkan dengan mengekivalenkan terhadap kendaraan penumpang sebagai kendaraan yang dinyatakan dengan faktor ekivalen (FE) = 1.
Maka dengan demikian satuan LHR adalah dengan satuan mobil penumpang (smp) atau Passenger Car Unit (PCU). Faktor ekivalen tersebut diterapkan sesuai dengan kondisi medan, sehingga didapatkan smp ekivalen.



Jenis
Kendaraan
Daerah Datar dan Perbukitan
Daerah
Pegunungan
Sepeda motor, sedan, jeep dan station wagon
Pick up, bis ukuran kecil, truk ringan
Bis, truk dua as
Truk bersumbu tiga, trailer
1,0
2,0
3,0
5,0
1,0
2,5
4,0
6,0


Dalam menghitung VLLR, kendaraan tak bermotor seperti sepeda, becak dan lain sebagainya, tidak diperhitungkan sebab pengoperasiannya jauh berbeda bila dibandingkan dengan kendaraan bermotor dan pengaruhnya atas lalu lintas kendaraan bermotor berubah tergantung volume lalu lintas kendaraan bermotor itu sendiri.                       
Faktor-faktor pokok pada klasifikasi jalan raya adalah volume lalu lintas rencana, fungsi jalan raya dan kondisi medannya. Penentuan lebar daerah manfaat jalan, alinyemen dan standar lainnya, mengikuti volume lalu lintas rencana, sedangkan penentuan kelas-kelas standar jalan akan mengikuti fungsinya.
Berikut ini adalah Peraturan Pemerintah No. 26/1985, tentang kecepatan rencana minimum dan lebar badan jalan minimum menurut fungsi jalan :
K   Untuk jalan arteri, kecepatan rencananya 60 km/jam, dan lebar badan jalan 8m.
K   Untuk jalan kolektor, kecepatan rencananya 40 km/jam, dan lebar badan jalan 7m.
K   Untuk jalan lokal, kecepatan rencananya 20 km/jam, dan lebar badan jalan 6m.
Tabel berikut menunjukkan pengelompokan jalan raya serta pengetrapan kelas standar:

Keterangan :
VLR = Volume Lalu Lintas Rencana (smp/hr)
D      = Datar
B      = Bukit
G      = Gunung

1.3.  Kapasitas Jalan Raya
Kapasitas suatu jalan berarti kemampuan jalan menerima lalu lintas. Jadi kapasitas menyatakan jumlah kendaraan maksimum yang melalui satu titik (satu tempat) dalam satu satuan waktu.
Kapasitas dibagi dalam 3 golongan :
a.    Kapasitas dasar (kapasitas ideal) yaitu kapasitas jalan dalam kondisi yang ideal yang meliputi :
P   Lalu lintas mempunyai ukuran standar
P   Lebar perkerasan ideal 3,6 m
P   Lebar bahu 1,8 m dan tak ada penghalang
P   Jumlah tikungan dan tanjakan
P   Daerah pembebasan
b.    Kapasitas rencana (design capassity) yaitu kapasitas jalan untuk perencanaan yang dinyatakan dengan jumlah kendaraan yang melalui suatu tempat dalam satu satuan waktu (jam).
c.    Kapasitas mungkin (possible capassity) yaitu jumlah kendaraan yang melalui satu titik atau tempat dalam satu satuan waktu dengan memperhatikan kecepatan ataupun perlambatan yang terjadi pada jalan tersebut.

Elemen dari perencanaan Geometrik jalan raya adalah:
·         Alinemen horizontal/trase jalan, terutama di titik beratkan pada perencanaan sumbu jalan. Pada gambar tersebut akan terlihatkan apakah jalan tersebut jalan lurus, garis menikung kekiri, atau menikung kekanan. Sumbu jalan terdiri dari rangkaian garis lurus, lengkung berbentuk lingkaran dan berbentuk lenkung peralihan. Perencanaan geometrik jalan menfokuskan pilihan letak dan panjang dari bagian-bagian jalan, sesuai dengan kondisi medan sehinga terpenuhi kebutuhan akan pengoperasian lalu lintas dan keamanan (ditinjau dari jarak pandang pengemudi kendaraan ditikungan).
·         Alinemen Vertikal / penampang menmanjang jalan.
Pada gambar akan terlihat apakah jalan tersebut tanpa kelandaian, mendaki atau menurun, pada perencanaan alinemen vertikal ini di pertimbangkan bagaimana meletakkan sumbu jalan sesuai kondisi medan dengan menperhatikan sifat operasi kendaraan, keamanan jarak pandang dan fungsi jalan. Pemilihan alinemen Vertikal, berkaitan dengan pekerjaan tanah yang mungkin timbul akibat adanya galian dan timbunan yang harus di lakukan.
Kondisi yang baik antara alinemen vertikal dan horinzontal memberikan keamanan dan kenyamanan pada pemakai jalan. Perencanaan ini diharapkan dapat miningkatkan umur pada konstruksi jalan tersebut. Selain itu dari segi ekonomis diharapkan dapat menguntungkan.




Contoh gambar penampang  jalan





Ada  beberapa istilah dalam penampang melintang jalan :
Ž  Daerah Milik Jalan (Damija) adalah seluruh daerah manfaat jalan berikut jalur tertentu di luar daerah manfaat jalan tersebut yang ditujukan untuk memenuhi kondisi ruang bagi pemanfaat jalan.
Ž  Daerah Manfaat Jalan (Damaja) adalah meliputi seluruh jalur lalu lintas (badan jalan, saluran tepi dan ambang pemangaman).
Ž  Daerah Pengawasan Jalan (Dawasja), ditujukan untuk penjagaan terhadap terhalangnya pandangan pengendara bermotor dan untuk konstruksi jalan, jika ruang daerah milik jalan tidak mencukupi.



BAB II
DATA PERENCANAAN

2.1        LHR Awal Umur Rencana
Mobil penumpang       :  400      =   400  SMP/ hari/2 arah
Bus                              :  200      =   200  SMP/ hari/2 arah
Truk 2 As                    :    80      =     80  SMP/ hari/2 arah
Truk 3 As                    :    20      =     20  SMP/ hari/2 arah
Truk 5 As                    :      4      =       4  SMP/ hari/2 arah       
LHR Awal Umur Rencana        =   704 SMP/ hari/2 arah
2.2        LHR akhir umur rencana
Mobil penumpang    :  ( 1 + 0.07 )10 x 400      =   786.80  SMP/hari/2 arah
Bus                           :  ( 1 + 0.07 )10 x 200      =   393.43  SMP/hari/2 arah
Truk 2 As                 :  ( 1 + 0.07 )10 x   80      =   157.37  SMP/hari/2 arah
Truk 3 As                 :  ( 1 + 0.07 )10 x   20      =     39.34  SMP/hari/2 arah
Truk 5 As                 :  ( 1 + 0.07 )10 x     4      =       7       SMP/hari/2 arah
LHR akhir Umur Rencana                              = 1384  SMP/hari/2 arah

         Untuk menentukan kelas jalan maka :
         LHR Awal Umur Rencana + LHR akhir Umur Rencana
                                                     2                                                                            
         =
         = 1044 SMP/hari/2 arah
        
         Jalan direncanakan adalah jalan kelas IIA sedangkan medan jalan adalah standart geometrik.




BAB III
ALINEMEN HORIZONTAL

3.3.      Pengertian Umum
Alinyemen horizontal adalah garis proyeksi sumbu jalan tegak lurus bidang peta. Alinyemen horizontal merupakan trase jalan yang terdiri dari :
Z  Garis lurus, merupakan bagian jalan yang lurus.
Z  Lengkungan horizontal yang disebut dengan tikungan, bagian yang sangat kritis pada alinyemen horizontal, karena suatu benda yang bergerak dengan lintasan berbentuk lengkungan akan menerima gaya sentrifugal yang akan melemparkan kendaraan kearah luar lengkungan.
Maka pada perencanaan tikungan agar dapat memberikan keamanan dan kenyamanan pada pemakai jalan, perlu pertimbangan hal–hal sbb :
J  Lengkung peralihan
J  Kemiringan melintang
J  Superelevasi
J  Pelebaran pada tikungan
J  Kebebasan samping


3.3.      Sketsa  Lintasan

 Tabel 3.1. Koordinat Pada Jalur Rencana
No
Titik
x (m)
y (m)
1
2
3
4
5
6
A
PI1
PI2
PI3
PI3
B
0
350
550
730
1300
2000
0
10
20
25
15
10




         d total  =  d1 + d2 + d3 + d4 + d5
                     =  350 + 200 + 180 + 570 + 700
                     =  2000 m

3.3.      Menghitung Sudut Putar