Pemuda Asal Banjar ini Jadi Imam Masjidil Haram

Posted by Sarjana Ekonomi on Kamis, 07 Juni 2018

INILAH pemuda Indonesia yang membaca Alquran di Masjidil Haram tampil di hadapan Imam Masjidil Haram Syekh Sudais, para ulama dan tokoh Makkah, seperti Amir Kota Mekkah dan Naib Amir dan lainnya. Pemuda berusia 21 th ini bernama Syekh Asal Syu'bah bin Haji Yanto al-Makki al-Banjari. Anak angkat Guru Syairazi Kandangan dan anak angkat Imam Masjidil Haram Syekh Dr. Hasan Bukhari.

SEJAK USIA 15 TAHUN, PEMUDA INDONESIA INI JADI IMAM TETAP DI MAKKAH

Masa muda merupakan periode emas bagi perjalanan hidup seorang manusia. Ibarat matahari, bayi itu terbitnya, masa tua itu tenggelamnya, dan masa muda adalah kulminasinya yang mampu menyinari dunia ke semua sudut-sudutnya. Masa muda adalah masa terbaik untuk mengembangkan potensi diri. Karena tubuh terasa bugar, pikiran tajam, semangat dan cita-cita pun bergelora di dada. Sebagai muslim, baik sekali jika waktu dan kesempatan disibukkan seperti menghafal dan mentadabburi Alquran. 

Cek Videonya: Disini
Ustadz Asal Yanto adalah di antara pemuda yang mempunyai semangat dan perhatian penuh terhadap Alquran. Jika Imam Syafi’i diberikan izin berfatwa di usia 15 tahun, maka Ustadz Asal didaulat menjadi imam tetap di Makkah juga di usia 15 tahun. Ia menjadi imam shalat rawatib, tarawih, dan qiyamul lail di beberapa masjid di Makkah, antara lain: Masjid Al-Bashawiri dan Masjid ‘Asyur Bukhari (2012), Masjid Ar-Ridha (2013), Masjid Syekh ibn Utsmain (2014), Masjid Bin Laden (2015), dan Masjid Birrul Walidain (2016, 2018). Tahun 2017 ia tidak menjadi imam di Makkah, karena pulang ke kampung halamannya di Kandangan – Kalimantan Selatan, sekaligus menemui salah seorang gurunya yang bernama Tuan Guru Haji Ahmad Syairazi. Pemilik suara merdu ini mempunyai nama lengkap Ustadz ‘Asal bin Yanto bin Jumri bin Bakri al-Banjari. 

Lahir di Makkah pada tahun 1997 M/1418 H, anak pertama dari pasangan Ustadz Yanto dan Ustadzah Mariyati. Meski sejak lahir menetap di Makkah, kewarganegaraan Ustadz Asal tetap Indonesia. Ayah dan ibunya berasal dari Ambutun, Kandangan, Kalimantan Selatan. “Asal” begitu panggilan guru dan ulama Makkah kepadanya, tidak pernah mondok seperti kebanyakan ustadz pada umumnya. Ia mukim di rumah orang tuanya di Makkah. 

Di usia 12 tahun ia menyelesaikan hafalan Alquran, dan meraih ijazah hafalan Alquran dengan predikat “Excellent” dari Lembaga Hafalan Alquran tingkat Kota Makkah. Ia telah menamatkan bacaan dan hafalan Alquran serta masih rutin mereview di bawah bimbingan Imam Masjidil Haram Syekh Dr Hasan Bukhari, bahkan sudah menamatkan Alquran riwayat Syu’bah bin ‘Ashim Al-Kufi di bawah bimbingan Imam Masjidil Haram tersebut. Pemuda yang suka mendendangkan nasyid ini juga pernah meraih juara 1 Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Kota Makkah, dan peringkat utama dengan Predikat Exelent pada Musabaqah Hifzhil Qur’an di Masjid al-Kuwaiti. Dirinya sering tampil di stasiun tv di Kota Makkah, diundang membacakan ayat suci Alquran pada acara-acara khusus yang dihadiri oleh para syekh, ulama, dan tokoh di Kota Makkah. 

Selain menjadi Imam Masjid Birrul Walidain di kawasan Zaidi Makkah, saat ini Ustadz Asal juga sibuk mengajar hafalan, tahsin dan tilawah alquran, di beberapa tempat; antara lain di Masjid ‘Asyur Bukhari Makkah, di bawah binaan Syekh Hasan Bukhari, mengajar mahasiswa luar negeri di Masjid Fakultas Dakwah di bawah binaan Universitas Ummul Qura. Setiap bulan Sya’ban diadakan penutupan tahfizh, sehingga mahasiswa pulang ke negerinya masing-masing. Di saat itulah Ustadz Asal kembali tampil bersama tokoh dan ulama Makkah seperti Imam Masjidil Haram Syekh Dr. Hasan Bukhari dan Khatibnya Imam Saleh al-Thalib yang juga tercatat sebagai Hakim Agung di Kota Makkah. Demikianlah kisah seorang pemuda Indonesia yang sukses di tempat turunnya Islam. 

Ia berpesan kepada umat Islam khususnya para pelajar dan generasi muda agar menyibukkan diri dengan Alquran. Sebab Alquran adalah kitab yang paling mulia, diwahyukan kepada nabi yang paling mulia, Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat yang paling mulia, Jibril AS, diturunkan di dataran bumi yang paling mulia, Mekkah, pada bulan yang paling mulia, Ramadhan, dan di malam yang paling mulia, malam lailatul qadar, yang lebih baik dari seribu bulan. 

Maka, mereka yang memuliakan Alquran adalah mereka yang dimuliakan Allah SWT. Betapa banyak orang yang memuliakan Alquran, hidup dan kehidupannya semakin berkah dan sukses. Memuliakan Alquran dengan membacanya, memahami dan mentadabburinya; syukur-syukur bisa menghafal dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan. Semoga...
Previous
« Prev Post

Related Posts

Kamis, Juni 07, 2018

1 komentar:

Posting Komentar